Berjuang Gak Berjuang, Ujungnya Sama

Ini artikel tentang pengalaman pribadi yang siapa tahu bisa membantu kamu termotivasi dalam hidup.

 

Prolog Singkat

Akhir April 2017, saya dan 2 keponakan (yang umurnya gak jauh, jadi walaupun keponakan, rasanya kayak kakak-adik aja) berminat membuat produk dan menjalankan bisnis online dari produk itu.

Kami bertiga masih single dan relatif muda, jadi masih penuh mimpi dan kadang mimpinya gak realistis. Sadar sih kalau kurang realistis, tapi gak tertahankan. Pokoknya makin lebay makin asoy.

Ngobrol, mikir, dan sebagainya, akhirnya kami memutuskan membuat satu produk untuk dijual.

Berhubung saya sudah duluan kerja dan punya penghasilan (dua keponakan masih kuliah semua), akhirnya saya putuskan modal dari saya. Karena modal dari saya, maka otomatis saya menjadi team leader.

Tapi membulatkan niat diri sendiri tidak mudah. Apalagi ketika sedang di masa-masa menyebalkan dalam hidup.

Kilas Balik Singkat : Masa-masa Menyebalkan dalam Hidup

Seperti yang sudah saya tulis di atas, sebuah dilema besar saya alami ketika saya harus kembali mengeruk uang tabungan dan mencari pinjaman.

Selama 3 tahun terakhir, secara finansial saya memang sedang kembang-kempis. Namun ada 2 momen utama yang paling memukul telak ubun-ubun kepala. Sakitnya seperti gigi berlubang yang kemasukan biji cabe rawit segar.

Momen pertama, Bapak terkena stroke ringan. Penyakit ini penyakit mahal. Butuh biaya lumayan untuk obat jalan dan berbagai terapi mengembalikan bicaranya yang jadi perot. Untunglah Ibu membantu sangat banyaaak dengan tabungan pribadinya. (Sedih kalau harus ingat Ibu kehilangan hampir semua tabungan yang disisihkan sedikit demi sedikit dari penghasilannya sebagai Guru SD)

Momen kedua, berdekatan dengan momen pertama, yakni sebelum stroke ringan Bapak, bisnis dengan modal lumayan besar tabungan seumur hidup, harus tutup karena rekan yang berjanji akan support ternyata setelah 4 bulan, menarik janjinya. Kehilangan support itu otomatis membuat timpang dan menghancurkan bisnis perlahan tapi pasti.

Setelah 2 pukulan itu (dan beberapa pukulan lain yang tidak saya tulis karena kemungkinan akan membosankan untuk dibaca), April 2017, harus keruk tabungan lagi dan cari pinjaman lagi untuk mulai dari nol bisnis online baru bersama 2 keponakan yang masih ijo royo-royo di dunia bisnis online?

Huuffftt…nafas jadi pendek rasanya. Iya apa nggak, iya apa nggak, begitu terus yang ada di kepala.

Modal pas-pasan, ditambah 2 calon rekan bisnis yang walaupun loyal tapi pengalaman masih ijo, membuat kemungkinan keberhasilan bisnis baru ini jadi penuh tanda tanya.

 

Ingin batal,

hampir batal,

benar-benar hampir batal,

benar-benar super hampir batal,

super hampir batal sampai berniat buat lamaran saja kerja sedapatnya,

tiba-tiba Tuhan memberi gamparan keras!

 

Super keras, sampai saya tidak punya alasan lagi untuk menyerah.

 

Gamparan Keras dari Tuhan

Produk yang ingin dibuat sudah ditentukan.

Kami melanjutkan dengan membuat business plan, survei pasar, bla bla bla. Saya bagi tugas dengan 2 keponakan saya. Mereka berdua survei pasar saja karena target market nanti ada di range umur mereka (18 – 25 tahun) dan waktu terbatas karena mereka berdua masih kuliah.

Waktu berjalan, dan Mei 2017 akhir,  di mana momen-momen terpuruk menghantui dan dilema untuk membuat usaha lagi, saya justru digampar Tuhan dengan momen kehancuran yang ke-3.

Momen Kehancuran yang Ke-3

Di atas saya tulis 2 keponakan baik hati yang mau membantu saya memikirkan dan menemani memulai usaha ini. Salah satunya bernama Filia.

Filia kuliah semester-semester awal di Univ. Moestopo. Usia 20 tahun, baru ulang tahun tanggal 20 Maret yang lalu.

Dari sudut pandang “abege”-nya, rencana produk ini terbantu banyak karena pasar terbesar nanti adalah cewek seumuran dia. Walaupun belum signifikan, kehadiran Filia lumayan memberikan masukan banyak tentang bagaimana kira-kira produk ini akan dimulai.

Diam-diam, bahkan Filia sempat buatkan akun Instagram tanpa diminta. Dia ada rencana marketing yang paling pas via Instagram. Dia juga sukarela untuk jadi admin-nya. “Yang penting Om semangat terus, coba aja dulu.”

Di bulan yang sama, akhir bulan Mei 2017, Filia meninggal dunia.

 

 

Usaha gak Usaha, Ujungnya Sama

Saya tahu, sudah lebih 7 tahun Filia bergulat dengan Lupus-nya, tapi kepergiannya benar-benar mendadak karena kondisinya menurun dalam hitungan jam di hari yang sama!

Pagi hari masih komunikasi, beberapa hari sebelumnya masih telpon lama bicarakan rencana bisnis ini, tiba-tiba di malam hari, Filia menghembuskan nafas panjang yang terakhir.

Hitungan jam saja!

Sekitar satu minggu setelah Filia pergi, setelah perlahan-lahan melewati masa-masa berkabung (walaupun sampai sekarang kadang kepikiran), tiba-tiba, ada sederet kalimat ajaib muncul yang kemudian menjadi harapan.

Kalimat itu muncul begitu saja ketika saya sedang di kamar, tidak jelas mau buat apa, duduk diam mau menyerah.

“Usaha gak usaha, ujungnya kita akan mati.”

BOOM!

Iya juga ya. Usaha gak usaha, saya akan mati akhirnya. Semua manusia akan mati. Hampir semua hal di dunia tidak pasti, kecuali satu hal yang pasti, kematian.

Dan…hidup benar-benar seperti tali tipis. Kita tidak pernah tahu kapan tali itu putus dan karena tali itu tipis maka harus disadari betul kalau tali itu sebenarnya mudah sekali putus.

Belum selesai mencerna, muncul tiba-tiba pikiran yang ke-2.

“Harta gak dibawa mati.”

BOOM DUA KALI!

Yap! Ini bukan tentang seberapa kaya yang mau kita capai, toh tidak dibawa mati juga kekayaan, tapi tentang sejauh mana merasa hidup penuh, dan perasaan itu muncul kalau kita terus mencoba mengejar mimpi.

Kalau nanti kaya, anggap itu bonus kebaikan dari Tuhan karena kita sudah berjuang dan mengejar kepenuhan hidup.

“Karena ujung-ujungnya sama, kenapa gue gak milih usaha terus aja?

Gak usaha gue mati, usaha pun gue mati. Mendingan gue usaha aja kali ya, jadi kalau nanti mati, hidup gue tentang hidup orang yang berusaha bukan tentang hidup orang yang menyerah.

Kalau di tengah usaha, gue mati, ya udah. Toh gak usaha pun, di tengah-tengah hidup tetep bisa mati. Nothing to lose aja, yang penting usaha terus aja.”

 

Dan justru pikiran sederhana itu membuat saya tiba-tiba punya energi baru untuk hadapi hidup, hadapi setiap masalahnya, dan pasrah. Yang penting terus berusaha, terus belajar, keluarkan semua hobi dan potensi, berhasil atau gagal itu urusan nanti.

Ambil uang tabungan, cari pinjaman, matangkan rencana bisnis, bodo amat soal nanti.

Selama rencana bisnis matang, sebenarnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan soal gagal atau berhasilnya nanti. Khawatir tidak akan mengubah apapun di masa depan. Masa depan tetap tanda tanya. Lebih baik waktu-khawatir diubah jadi waktu-belajar untuk terus mempelajari dan mendalami rencana bisnis se-super-matang mungkin. Berhasil atau nggak, urusan nanti.

Ini bukan tentang seberapa banyak harta yang dikejar, jadi tidak perlu khawatir lagi soal itu, tapi tentang bagaimana potensi jadi maksimal. Karena tidak perlu khawatir soal duit-nanti, maka jalan pikiran jadi lebih enteng dan bisa fokus belajar dan bekerja. Makin fokus, makin besar kemungkinan berhasil kan?

Bisnis online baru ini masih belum jadi apa-apa. Mungkin gagal, mungkin berhasil, tapi yang pasti saya akan coba karena sejauh ini hitungan dan plan-nya memungkinkan untuk dicoba. Seandainya gagal pun, ya tinggal cari peluang yang lain lagi. No worries. Hajar terus saja.

Semoga tulisan ringan ini bisa membantu kamu untuk terus termotivasi dalam hidup. Saya bukan siapa-siapa, bukan motivator terkenal atau bisnisman jagoan, cuma orang biasa dengan kepala bohlam ekstrak otak monyet.

Saya tulus hanya ingin berbagi, siapa tahu ada semangat-semangat baru yang muncul dari tulisan sederhana-tanpa-tata-bahasa ini.

NB : Pertama, keponakan yang satunya saya tidak tulis nama, karena dia pemalu, bukan pilih kasih. Kedua, tulisan ini saya tulis untuk mengenang Filia. “Thanks Fil atas keceriaan dan ketengilan selama ini.”

 

 

 

 

 

 

Iklan

Satu pemikiran pada “Berjuang Gak Berjuang, Ujungnya Sama

  1. Wow, itu keren! Saya percaya kalau Anda mau bertahan sebentar lagi, dan tetap bertumbuh setiap hari. setidaknya mengusahakan sebuah perkembangan 1% per hari, Anda bisa meraih sesuatu di bberpa tahun yang akan datang.
    Apa yang Anda alami itu tidak mudah, dan sungguh saya sangat terpukul. Tapi saya mendoakan Anda untuk sukses! Anda berhak untuk sukses setelah mengalami kepedihan yang amat banyak! Dan saya juga yakin Tuhan yang Maha Esa akan memberikan jalan terbaik untuk Anda! Salam kenal dan salam sukses dari saya, Hepy Kusuma Wijaya

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s