Mengapa Perlu Ber-Musik?

Untuk kamu yang struggling cari selembar dan dua lembar rupiah setiap hari, di mana tidak ada yang namanya hari gajian, di mana tidak ada yang membedakan antara tanggal tua dan tanggal muda, maka bermain musik, mendengarkan musik, apapun deh yang berkaitan dengan musik, rasanya kadang seperti membuang waktu.

“Dari pada latihan atau mendengarkan musik, mendingan pasang iklan online atau jualan pisang goreng,” begitu gampangnya.

Berangkat dari pemikiran sepele ini, saya ingin berbagi cerita tentang mengapa perlu ber-Musik.

 

HIDUP ITU LUAS

Hidup tidak sebesar daun kelor.

Hidup bukan hanya tentang berapa banyak uang yang kamu cari, bukan juga tentang berapa banyak tabungan dan investasi yang sudah kamu punyai. Uang penting, setuju banget, tapi bukan satu-satunya.

Selama belum ada cara membeli nyawa dan teknologi hidup abadi, uang tidak akan pernah jadi satu-satunya.

Maka, hidup juga tentang bagaimana kamu bisa ‘merasakannya’.

Feeling alive atau merasa hidup itu mahal dan orang kadang lupa ini adalah kebutuhan serius.

Pernah merasa kerja trus tau-tau udah sore aja? Pernah merasa waktu berlari cepat, berlari terus, sampai kamu tidak sadar sudah akhir minggu?

Perasaan seperti itu bila dilanjutkan, kira-kira bisa nggak suatu hari kamu ngeh dan sadar tau-tau sudah tua? Terakhir kamu ingat, masih menikmati hidup tongkrongan dengan teman-teman kuliahan, sekarang begitu ngeh sudah muncul banyak keriput di muka.

Mau begitu?

Wuzzzz…waktu lewat, uang lumayan, tapi fisik sudah renta. Mau apa?

Kalau saya boleh saran, bagaimana kalau cari uangnya sambil sedikit dinikmati hasilnya? Ada yang jalan-jalan, ada yang beli makanan enak, ada juga yang beli gadget status sosial. Bebas saja sih.

Nah, ber-Musik bisa jadi alternatif murah dan ringkas di tengah kepadatan waktumu.

Ketika sudah penat pada rutinitas dan tekanan, ambil alat musik yang kamu bisa mainkan, atau ambil earphone kamu, lupakan semua sejenak, Musik-kan isi kepalamu. Biarkan sejenak sadar kalau KAMU MASIH HIDUP dan bisa menikmatinya dengan cara sederhana.

Mempertahankan daya tahan kerja orang maksimal dan efisien, menurut penelitian yang saya lupa siapa tapi silahkan googling, karena sudah banyak di mana-mana, ada taktiknya. Dengan hitungan sebagai berikut :

  • 60 menit kerja, istirahat 5 menit, 60 menit bisa kerja lagi dan seterusnya berulang.
  • 90 menit kerja, istirahat 15 menit, 90 menit bisa kerja lagi dan seterusnya berulang.

Nah, waktu 5 atau 15 menit di atas bisa diisi dengan ber-Musik. Coba praktekan dan lihat hasil kerja kamu. Lebih efisien atau tidak? Istirahat dan ber-Musik adalah meninggalkan segala kerjaan sejenak, istirahatkan pikiran, lalu ber-Musik, bukan kerja sambil mendengarkan musik.

 

 

MUSIK ITU JIWA TERTUA ALAM

Nah lho!

Btw, sub judul di atas menurut saya saja ya. Kamu bebas percaya atau tidak.

Pernah dengar burung berkicau dong. Ada nadanya kan? Nada itu bagian dari musik kan?

Kira-kira mana yang lebih dulu ada, makhluk berkicau unggas dengan kemampuan intelektual sederhana atau manusia dengan complicated otaknya?

Bila kamu bukan penganut paham evolusi makhluk hidup, tidak apa-apa.

Logika sendiri menerangkan bahwa apapun yang complicated selalu berasal dari sesuatu yang sederhana bukan?

Oke, kita ambil contoh lebih tua.

Dulu daratan dan laut di bumi komposisinya berbeda dengan daratan dan laut saat ini. Terjadi retakan, patahan, pelintiran, atau apalah namanya, maka terbentuklah daratan dan lautan seperti saat ini. Patahan itu penyebab gempa bumi, gempa selalu menghasilkan bunyi-bunyian tertentu. Itu bukan nada merdu, tidak seperti kicauan burung, tapi bagaimanapun juga itu tetaplah masuk kategori bunyi-bunyian.

Bunyi-bunyian bagian dari musik. Bila tidak sesuai dengan solmisasi nada yang dirumuskan manusia, ya wajar. Alam punya nadanya sendiri kan. Cieee.

Bila kita sepakat bahwa itu semacam alam yang ber-Musik, maka kita bisa sepakat juga bahwa Musik itu jiwa tertua semesta.

Jadi mengapa perlu ber-Musik?

Jika Musik adalah jiwa tertua semesta, maka Musik dapat mengobati, memenuhi, menemani jiwa-jiwa yang lain, salah satunya manusia.

Bila kamu merasa kekosongan dalam diri (atau dalam jiwa, katanya), apa salahnya dicoba dengan dipenuhi sedikit dalam bahasa Musik?

“Jadi ambil earphone, puter sound effect gempa bumi?”

Ya gak usah lebay gitu juga. Manusia kan makhluk yang complicated, campuran antara makhluk pikiran dan makhluk perasaan. Ber-Musik yang sesuai dengan kondisi pikiran dan perasaan kamu saja. Kalau memang mendengarkan suara gempa bumi bisa membuat kamu lebih tenang dan merasa romantis, misalnya, silahkan saja. Ini aneh, tapi tidak dilarang.

 

MELATIH KEMAMPUAN BERPIKIR

Musik-musik tertentu memiliki kerumitan tertentu. Pernah dengar kalau musik klasik tertentu dipercaya bisa membantu perkembangan kecerdasan bayi dalam kandungan? Kerumitan (dalam musik) yang dinikmati, tanpa sadar melatih kemampuan pikiran menghadapi kerumitan permasalahan hidup. Mungkin begitu ya.

Terserah lah apa alasannya.

Tapi saya setuju.

Musik punya logikanya sendiri. Kadang logikanya itu, punya tingkat kerumitannya sendiri. Nada Do, Mi, Sol dipencet bareng menjadi Kunci C. Do ke Mi jaraknya sekian, Mi ke Sol jaraknya sekian.  Supaya jadi Kunci C7, harus ditambahkan nada apa. Bila nada dasar berubah, maka nada Do bukan di pencetan yang sama.

Itu penjelasan goblok.

Tapi tahu kan poinnya? Terasa kan kalau musik ada logikanya sendiri?

Itulah.

Kalau kita terbiasa menikmati Musik, kira-kira mungkin nggak susunan struktur pikiran kita tanpa sadar terlatih memahami logika tertentu tentang hal tertentu?

Nah selesai ya.

* * *

Mari kita simpulkan.

Mengapa perlu ber-Musik?

Karena Musik itu membantu kita menikmati hidup dengan memperlambat waktu sekaligus memperpanjang rasa nyaman.

Karena Musik itu membantu mengisi kekosongan dalam diri yang kadang tidak bisa kita jelaskan mengapa. Musik sifatnya suplemen ya, bukan obat segala permasalahan diri. Jadi kalau di hal lain masih merasa kosong, ya bereskan masalahnya.

Karena Musik mencerdaskan, sadar atau tidak sadar. Kecerdasan bukan hanya tentang IQ, tapi juga tentang EQ (emosional). Orang pintar dengan otak melintir, tidak akan maksimal pelintirannya bila dirinya mudah gonta-ganti mood, baperan, dan panasan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s